Gerakan Seribu Jilbab? Apa ya itu? Apakah gerakan dimana ada seribu wanita memakain jilbab untuk membantu seseorang seperti iklan salah satu provider kartu telekomunikasi? hehehe bukan, tapi tujuannya sama yaitu untuk membantu. Membantu siapa? Oke saya jelaskan dulu asal muasal saya ingin membuat gerakan ini, ngomong-ngomong saya ini ikhwan ya bukan akhwat.
Suatu siang ketika sedang menjelajahi dunia maya dengan akun twitter saya @panjisyamsi (promosi dikit hehe) saya membaca salah satu tweet seorang akhwat/wanita yang membuat akun gerakan seribu hijab di daerah Semarang. Saya yang juga memiliki ketertarikan dalam gerakan sosial dan alhamdulillah sudah membentuk suatu gerakan sosial non-pemerintah bernama Tunas Muda Peduli, terinspirasi untuk membentuk gerakan yang serupa namun tak sama di daerah tempat saya tinggal yaitu di daerah Jakarta Selatan. Terus apa ya tujuan dan seperti apa dari Gerakan Seribu Jilbab ini? Tujuan Gerakan Seribu Jilbab ini secara luhurnya adalah untuk menjaga dan menghormati kaum wanita, kok bisa? Kalau saya jelaskan di sini akan jadi amat sangat panjang, nantinya bosan deh pembaca, jadi sila baca di artikel saya yang berjudul "Islam VS Emansipasi". Sasaran dan target seribu jilbab ini adalah anak-anak yang berada di panti-panti asuhan, TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) dan juga anak-anak kaum dhuafa, dengan memberikan satu jilbab untuk satu anak di panti-panti asuhan dan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an).
Gerakan Seribu Jilbab ini saya akan mulai dari beberapa universitas dan juga sekolah-sekolah. Untuk kalangan Universitas saya mulai dari UIN Jakarta, UNJ, UI, dan UNPAD. Lalu kalangan sekolah insya Allah akan dimulai dari SMAN 66 Jakarta, SMAN 34 Jakarta, SMK Nusantara sebagai simpul massa yang awal. Publikasi Gerakan Seribu Jilbab ini insya Allah akan disebarluaskan melalui media massa.
Jadi saya mengajak teman-teman semua untuk partisipasi dalam Gerakan Seribu Jilbab ini, yaah ini juga sebagai media syi'ar dan dakwah dalam agama kita ini kok, lebih milih mana dakwah dengan cara kekerasan atau dakwah dengan cara yang penuh kekerasan dan kebencian? hayoo pilih hehehe. Kalau mau partisipasi dalam gerakan ini, teman-teman bisa menghubungi saya melalui blog ini, atau melalui akun socmed saya (Fb : Panji Nursamsi, twitter : @panjisyamsi, email : nursamsipanji@yahoo.com, atau nomor telepon : 085716464917). Cukup sekian ya penjelasan dari saya, untuk lengkapnya bisa tanya langsung ke saya melalui alamat kontak saya tadi hehehe, mohon do'a dari teman-teman juga agar gerakan ini bisa berjalandengan sukses, "saatnya mengembalikan nama baik islam dengan jalan cinta dan kasih."
Hari Valentine yang dirayakan setiap tanggal 14 Februari setiap tahunnya, merupakan hari yang diklaim sebagai hari Kasih Sayang di seluruh dunia, dimana pada hari itu Sang Dewa Cinta yang bernama Cupid memanahkan panah cintanya kepada setiap pasangan agar lebih saling mencinta. Banyak cara yang diekspresikan untuk memberikan kasih sayang pada hari valentine, mulai dari memberi coklat, kado boneka, dan sebagainya. Di tempat-tempat umum seperti pusat perbelanjaan dan tayangan-tayangan di televisi pun ramai dengan tema “Hati, Cinta, Kasih Sayang” serta warna merah yang melambangkan cinta. Banyak muda-mudi bahkan yang sudah menikah pun menunggu untuk merayakan hari penuh cinta ini. Tapi sebenarnya apa Hari Valentine ini? Benarkah sebagai Hari Kasih Sayang?
Awal mula Hari Valentine berasal dari sejarah seseorang yang bernama Valentine. Valentineadalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung dengan pasukan militer yang dimiliki oleh kerajaan yang dipimpin oleh dirinya.
Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.
Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.
St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.
Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.
Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.
Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.
Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.
Hukum Merayakan Hari Valentine bagi Ummat Islam
Hari Valentine berasal dari sejarah bangsa Romawi atau Nasrani yang merupakan kaum paganis (penyembah berhala). Dari The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Christianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 49 M, Paaus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang meninggal pada 14 Februari.” Keterangan ini menjelaskan bahwa perayaan hari valentine berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Sementara dalam aqidah islam sendiri, umat islam dilarang untuk bertasyabbuh (meniru kaum kafir) atau mengikuti acara perayaan atau merayakan hari besar agama lain, baik nasrani maupun agama paganis lainnya. Rasulullah SAW bersabda pada salah sat hadits, “Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban)
Ken Swiger dalam artikelnya berjudul “Should Biblical Christians Observe it?” mengatakan “Kata Valentine berasal dari bahasa Latin yang memilik arti “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Maha Kuasa”. Dan saat merayakan Valentine, seseorang yang mengatakan kepada pasangannya dengan ucapan “be my valentine” sama saja orang itu meminta pasangannya untuk “Sang Maha Kuasa” yang jelas itu adalah sifat Allah, dan sama saja orang itu meminta pasangannya untuk mejadi Tuhannya. Dan hal itu merupakan perbuatan syirik karna menyamakan makhluk dengan Sang Khalik. Dan pada akhirnya, semangat valentine adalah semangat yang bertabur simbol-simbol syirik yang hanya akan menyeret bagi ummat islam yang merayakannya ke dalam neraka, na’udzubillahi min dzalik. Perayaan Valentine’s Day pun membawa dampak negatif, seperti yang kita lihat sekeliling kita saat hari valentine banyak pasangan yang merayakannya dengan kencan, jalan berduaan, dan sebagainya dan tak jarang banyak yang akhirnya melakukan zina, padahal islam melarang zina bahkan mendekatinyapun dilarang, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S Al-Isra : 32)
Hijabers, salah satu komunitas berjilbab di Indonesia
Jilbab. Bukan lagi suatu hal yang aneh bagi masyarakat dunia –Indonesia khususnya- saat ini, bahkan sudah hampir menjadi suatu fashion tersendiri dalam masyarakat kita bahkan ada beberapa komunitas yang dibentuk yang tentu saja isinya kaum hawa yang berjilbab. Karna berjilbab pun ajaran dari agama islam yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat, jadi tidak mengherankan jika banyak wanita di pelosok negeri ini memakai jilbab.
”Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang-orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu merek tidak diganggu. Dan, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Ahzab : 59)
Dan melihat realita masyarakat wanita sekarang banyak yang memakai jilbab, kita semua patut untuk bersyukur dan mengucap “alhamdulillah”. Tapi dalam penerapan jilbab ini, ada banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan juga kesalahan-kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan, apa sajakah itu? mari kita bahas bersama kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan dalam hal berjilbab.
1.Jilbab Terlalu Pendek
Fungsi dan tujuan dari berjilbab adalah untuk menutupi aurat, jadi sudah pasti bahwa jilbab ini harus bisa untuk menutupi bagian-bagian tubuh yang memang wajib untuk ditutupi. Seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali telapak tangan dan wajahnya. Misalnya seperti model kerudung bergo yang hanya menutupi sampai bagian leher -dan sedikit ketat kelihatannya-. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab : 59,
“.....Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka....”
2.Jilbab Transparan/Terlalu Tipis
Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa fungsi dan tujuan berjilbab adalah untuk menutup aurat, jadi jilbab yang kainnya terlalu tipis bahkan seperti transparan tidak dibenarkan secara syar’i, karna sama saja tidak menutup aurat, dan sekali lagi disinggung bahwa aurat wanita adalah seluruh bagian tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajahnya. Jadi bagian rambut adalah auratnya juga dan tidak boleh dilihat oleh selain mahramnya. Seperti hadits dari Rasulullah SAW,
“Hai, Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila ia telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah berkata sambil menunjuk muka dan telapak tangan hingga pergelangannya sendiri. (H.R Abu Dawud dari ‘Aisyah r.a)
3.Memakai Baju Ketat dan Seksi
Rasulullah SAW bersabda,
“Pada akhir zaman nanti akan ada wanita-wanita dari kalangan ummatku yang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.....” (Hadits Mashur)
contoh berjilbab yang sesuai etika syar'i
Ada yang tahu apa bedanya menutup aurat dan membungkus aurat? Menutup aurat yaitu menutup aurat agar tidak tampak oelh indera penglihatan baik secara visual maupun bentuknya. Memakai baju yang ketat tidak bisa kita sebut telah menutup auratnya meskipun yang bersangkutan telah memakai jilbab, karna lekukan tubuhnya masih terlihat karna baju yang dipakai ketat dan seksi, dan ini lah yan disebut oleh Rasul “berpakaian namun telanjang.” Jadi yang benar dalam menutup aurat adalah tidak memakai pakaian yan ketat atau seksi yang bis amemperlihatkan lekuk tubuh, dan juga pakaian yang dipakai cukup panjang untuk menutupi auratnya, terutama –zaman sekarang- banyak yang berjilbab namun celana/roknya kurang panjang dan bagian lengannya hanya sampai lengan atau malah siku.
Itu lah beberapa kesalahan yang sering dilakukan dalam menutup aurat atau berjilbab, sudah sepantasnya jika hal-hal di atas dihindari agar tujuan dan esensi dari berjilbab itu tidak hilang. Jika beralasan karna untuk terlihat cantik dan modis meskipun berjilbab, itu tidak bisa diterima, bahkan dengan tetap menjaga tujuan dan inti dari berjilbab tadi bisa tetap cantik dan modis, tentunya dengan style yang disesuaikan dengan syarat-syarat syar’i. Semoga artikel yang memakai referensi dari buku “60 Kesalahan Dalam Berjilbab” ini bisa bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab.
“Habis Gelap Terbitlah Terang.” Siapa dari masyarakat Indonesia bahkan dunia yang tidak mengetahui kalimat penuh makna ini? Ya, itu adalah kalimat yang diucapkan oleh seorang pahlawan wanita bangsa Indonesia yang berasal dari Jawa, yaitu Raden Ajeng Kartini, seorang wanita yang berjuang dalam memperjuangkan hak asasi kaum hawa ketika masa kolonial Belanda dahulu. Pahlawan emansipasi wanita, tapi bukan beliau yang akan kita perbincangkan pada kesempatan ini, namun “emansipasi” yang ada pada zaman sekarang ini, yang berlawanan dengan ajaran Islam.
Pada zaman sekarang ini, masyarakat berpandangan bahwa ajaran Islam justru merendahkan dan mengekang kaum wanita, sehingga banyak dari kaum hawa melakukan “emansipasi” agar bisa lebih “berprestasi”, benarkah Islam membatasi kaum perempuan untuk berkarya dan berprestasi? Benarkah emansipasi adalah jalan keluar yang sesuai untuk kaum perempuan untuk berkarya dan berprestasi? Dari sudut pandang penulis, ajaran Islam sama sekali tidak membatasi kaum wanita untuk berkarya atau berprestasi, atau justru merendahkan perempuan dengan laki-laki, justru sebaliknya, emansipasi lah yang merendahkan dan menghinakan perempuan, kok bisa? Penulis ambil beberapa contoh nyata pernah beberapa kali penulis dengar.
“Islam itu membatasi kami berekspresi dalam hal berpakaian, tidak modern, dsb. Kita kan mesti ikutin zaman yang ada sekarang.” (emansipasi)
Benar kah seperti itu? Apakah Islam membatasinya? Ya, memang benar Islam membatasi dalam hal berpakaian bagi kaum hawa, tapi bukan untuk membatasi dalam berekspresi, justru dengan membatasi hal-hal dalam berpakaian itu Islam menghormati dan melindungi perempuan dari hal-hal yang merendahkan, seperti contohnya banyak wanita zaman sekarang yang memakai pakaian minim yang memperlihatkan bagian aurat mereka, sehingga banyak dilihat dan dinikmat oleh laki-laki yang tidak baik, bahkan sering menjadi pemicu terjadinya tindak asusila, betul toh? Tapi disaat hal itu sudah terjadi, siapa yang mereka salahkan? Si pelaku yang merupakan laki-laki, bahkan kadang sampa menyalahkan nasib/takdir yang itu berarti menyalahkan Allah?! Nau’dzubillahi min dzalik. Sementara lihat ajaran Islam yang membatasi namun untuk menghormati dan melindungi perempuan.
”Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.....” (Q.S An-Nuur : 31)
Baca dan cermati ajaran Islam yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu, sudah sejak lama Islam menghormati dan melindungi wanita dari hal-hal yang buruk, bahkan wanita yang berpakaian sopan menutup auratnya, lebih terhormat dan disegani oelh banyak orang dibanding wanita yang mengumbar auratnya dengan mengatasnamakan “emansipasi”, apakah membatasi kreativitas dalam berpenampilan? Tentu tidak, lihat model-model jilbab yang ada sekarang, dengan corak, warna yang tentu saja hasil dari ekspresi dan karya kreativitas, namun tetap melihat syarat-syarat syar’i (kesempatan berikutnya kita bahas kesalahan-kesalahan umum dalam berjilbab).
Lalu apalagi? Masyarakat zaman dulu mengatakan dan juga memiliki pemikiran bahwa Islam tidak mengizinkan kaum wanita untuk menuntut ilmu atau belajar banyak dalam hidupnya, karna wanita ditakdirkan pada akhirnya akan menjadi seorang istri dan mengurus keluarga saja, kembali lagi penulis bertanya? Benarkah demikian? Mari kita sabda Baginda Nabi Muhammad SAW (Allahumma shalli wabarik ‘alaih)
“Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah).” (H.R Ibnu Majah)
Oki Setiana Dewi, artis muslimah yang menjaga hijabnya
Begitulah sabda Nabi yang telah beliau sabdakan berabad-abad silam, sesungguhnya yang membatasi seorang wanita untuk belajar atau berpendidikan lebih tinggi bukanlah Islam, namun pemikiran orang-orang zaman dulu yang memeluk Islam, sehingga yang disorot salah adalah Islam. Dan lagi-lagi, perempuan tetap bisa berprestasi, bekerja, bahkan berpenghasilan untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga, bisa dengan cara berjualan di rumah, atau membuat pabrik rumahan, tanpa harus pergi ke kantor, pulang malam, sehingga anak-anak terlantar, bahkan terkadang menimbulkan fitnah. Dan contoh terakhir yang penulis pernah dengar juga, bahwa perempuan muslimah yang menutup auratnya dengan baik, yang memegang ajaran Islam dengan baik tidak akan sukses dalam pekerjaannya? Lagi-lagi dan lagi-lagi penulis bertanya, benarkah demikian? Lagi-lagi hal itu salah, banyak pengalaman yang penulis dapat dari beberapa wanita yang lebih memilih menjaga hijabnya dari pada harus melepasnya hanya untuk mendapat atau menjaga pekerjaannya, mau bukti yang nyata bahkan terkenal, lihat seperti Oki Setiana Dewi, ukhti ini menjaga auratnya dengan pakaian yang sesuai ajaran Islam, namun ukhti ini bisa berprestasi dalam dunia akting dan jauh dari fitnah gossip, bagaimana bisa? Mari sama-sama kita resapi dan hayati firman Allah ‘Azza Wa Jalla dalam ayat-Nya yang indah,
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu membantu (agama) Allah, niscaya Dia akan membantumu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S Muhammad : 7)
Itulah beberapa pendapat penulis tentang salahnya penafsiran “emansipasi” dan ajaran Islam yang banyak berkembang pada zaman sekarang ini, pada akhirnya, setuju atau tidak, penulis kembalikan pada pembaca. Wallahu a’lam bishowab.