Setiap apa yang terjadi mengandung hikmah bagi setiap orang yang mau melihatnya lebih bijak. Karena bersama kesedihan terdapat kebahagiaan.

Selasa, 29 November 2011

MAu hidup berkah? Dan rezeki bertambah? MAri bersyukur!


Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab.  Kata ini  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai:





(1) Rasa terima kasih kepada Allah





(2) Untunglah  (menyatakan lega, senang, dan sebagainya).





Jadi, syukur nikmat adalah sikap atau tindakan berterima kasih kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya dalam hidup manusia. Adapun lawan dari sikap syukur nikmat adalah kufur nikmat.

Allah SWT memberi perintah kepada manusia untuk bersyukur yang disebutkan dalam firman-Nya,





“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (Q.S Al-Baqarah :172)







 Sikap syukur selain media untuk dzikir kepada Allah, sikap syukur juga akan menambah nikmat-Nya seperti yang dijelaskan dalam firman Allah SWT,







“….Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S Ibrahim : 7)







Allah telah berjanji di dalam firman-Nya bila manusia itu mensyukuri nikmat-Nya maka nikmat untuknya akan ditambah, namun mayoritas manusia tidak memahami hal itu.







“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar dan tidak berterima kasih (bersyukur) kepada Rabb-Nya.” (Q.S Al-‘Aadiyat : 6)







Begitulah Allah menyinggung manusia untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya karna memang telah banyak nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, mulai dari nikmat bernapas, nikmat sehat, dan yang paling berharga nikmat iman dan islam, dll.







“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S Ar-Rahman :13)







A.    Manfaat Syukur Nikmat



Seperti yang telah dijelaskan pada bab di atas, bahwa dengan bersyukur atas nikmat Allah, manusia akan mendapatkan banyak manfaat, seperti berikut :



1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.



2. Menjauhkan dari sikap kufur nikmat.



3. Melapangkan rezeki.



4. Menjauhkan sikap su’udzon billah (berburuk sangka kepada Allah) dan membiasakan husnudzon billah (berbaik sangka kepada Allah).



5. Memperoleh hikmah dalam setiap kejadian, baik nikmat maupun musibah, dan hidup terasa bahagia.



Dan masih banyak lagi manfaat yang akan didapat oleh manusia yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT dari pada manusia yang kufur nikmat.

AL-QUR'AN vs SAINS, Mana yang lebih dulu menjelaskan?

Zaman ini ilmu pengetahuan terus-menerus berkembang seiring dengan sering dilakukannya penelitian-penelitian oleh para ahli, namun tahukah kita bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan semua hal-hal dalam dunia sains yang pada awalnya menjadi misteri bagi umat manusia? Mari kita lihat beberapa ayat di bawah ini.

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya” (QS. Al-Hijr : 22)



Dalam sains khususnya dalam biologi, tumbuhan dapat berkembang biak dengan beberapa cara dan salah satunya adalah dengan bantuan angin yang bertiup. Tiupan angin membawa serbuk sari dari bunga jantan yang kemudian jatuh pada putik sari, sehingga terjadilah perkawinan antara bunga itu. Hal ini manusia bisa katakan setelah penelitian dilakukan beberapa abad yang lalu, tapi bukankah Al-Qur’an telah lebih lama turun sebelum hal itu terungkap oleh manusia. Ketika sains belum semaju saat ini.


“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am : 125)



lapisan langit

Seperti yang telah kita ketahui bersama, ketinggian tempat berpengaruh pada jumlah oksigen yang tersedia. Semakin tinggi suatu tempat maka semakin tipis kadar oksigen yang berada pada wilayah itu. Bumi ini memiliki beberapa lapisan atmosfer, semakin tinggi lapisan atmosfer itu, maka semakin tipis dan berkurang kadar oksigen itu. Bayangkan, bagaimana mungkin manusia pada zaman Rasul mengetahui hal ini? Sedangkan zaman Rasul belum ditemukan pesawat terbang bahkan pesawat ulang-alik untuk menjelajah angkasa. Padahal pesawat baru ditemukan oleh Wright Bersaudara beberapa abad kemudian.

“Dan laut yang di dalam tanahnya ada api.” (QS. Ath-Thuur : 6)



Api dengan air adalah dua hal yang amat sangat bersebrangan dan tidak bisa menyatu, bila air menyerang api, maka padamlah api itu, namun bila api memanaskan air, maka air itu pun akan menguap, salah satu dari kedua hal itu akan kalah bila salah satunya lebih dominan. Namun penelitian membuktikan, bahwa di kedalaman laut di suatu daerah, terdapat gunung-gunung api yang aktif dan memiliki magma yang begitu panas sekitar kurang lebih 800 derajat celcius. Namun api yang berupa magma itu tidak padam walau berada di dalam air sekalipun dan air yang berada di sekilingnya tidak mendidih. Apakah dulu Rasul menyelam sampai jauh ke dalam laut untuk mengatakan hal itu? Bukankah semakin dalam akan terdapat tekanan yang bisa membahayakan manusia? Mengapa bisa begitu? Karna Al-Qur’an adalah firman-firman Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, dan bukan buatan manusia bahkan sekaliber Rasul sekalipun tidak bisa membuat atau menandingi Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah alam yang ditulis, alam adalah Al-qur’an yang tergambar, Nabi Muhammad SAW adalah Al-Qur’an yang berjalan dan bergerak.

Kasih Sayang Tak Berujung

Konon pada jaman dahulu, di suatu tempat ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.

Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.

“Bu, kita! sudah sampai”, kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.

Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:”Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang."

"Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan”.

Setelah mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
 ***********************************************************************************************
Sebuah peribahasa mengatakan bahwa, "Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang tongkat." betapa jauh perbandingan panjang antara sebuah jalan dengan panjang sebuah tongkat yang mungkin hanya beberapa meter saja panjangnya. pengorbanan orang tua (khususnya seorang ibu) untuk anak-anaknya tidak lah bisa kita balas sepenuhnya. ibu kita sering berkorban untuk kita, anak-anaknya. tidak peduli dengan keadaan dirinya, yang ada dalam hatinya hanya terlintas bahwa anak-anaknya bahagia. pernah kah kita menyadari ibu terkadang berbohong untuk menutupi keadaan dirinya yang sebenarnya pada anak-anaknya? atau sekedar mengucapkan "terima kasih" saat dia memasakkan makanan untuk kita? semua yang ibu lakukan adalah pengorbanan, tapi dalam pikiran kita itu semua tertutup dengan alasan "itu adalah kewajiban seorang ibu", sadarilah bahwa yang dilakukan itu adalah pengorbanan, bukan sekedar kewajiban. mungkin kita sebagai anak tidak bisa membalas banyak jasa-jasa ibu kita, paling tidak janganlah kita tega membuatnya menangis karna ulah kita. dan ingat satu hal, segalak-galaknya ibu kita, masih lebih galak Ibu kota.

Kamis, 24 November 2011

ALLAH TIDAK MEMILIKI SEGALANYA!

Allah itu mempunyai segalanya. Dari dulu pemahaman kita tentang Allah itu seperti itu, semua orang memahami seperti itu, tapi suatu hari saya membaca sebuah status yang kurang lebih berbunyi "Apa yang manusia miliki namun Tuhan (Allah) tidak miliki?". status itu membuat saya berpikir, bukankah Allah itu memiliki segalanya? Lantas apa yang tidak dimiliki oleh Allah, namun manusia justru memilikinya? Akhirnya saya bertanya kepada seorang ustadz, dan jawaban beliau adalah, memang ada yang tidak dimiliki oleh Allah, yaitu tidak memiliki kekurangan, sifat zhalim, pasangan, keturunan/anak dan orang tua, dsb. Dan akan dibahas sekilas pada dua hal, yaitu Allah tidak memiliki sifat zhalim dan tidak memiliki anak dan orang tua.

  • Allah tidak memiliki sifat zhalim
"......menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengn Tuhanmu." (AR-Ra'du : 2)

Pergerakan matahari dan bulan, planet-planet, benda-benda langit semua diatur dan dikendalikan oleh Allah SWT, tidak ada yang luput dari kendali-Nya. Setiap saat, setiap detik tidak pernah Allah lepaskan kendali-Nya pada alam semesta ini. Mari kita bayangkan bila Allah memiliki sifat zhalim (malas) mengatur dan mengendalikan alam semesta ini walau hanya sedetik saja, apa yang terjadi? matahari mengeluarkan kekuatan panasnya secara berlebihan, bulan terlepas dari porosnya yang bisa menyebabkan saling bertabrakan dengan benda langit lain bahkan dengan bumi, lautan mengamuk, udara beregemuruh, maka binasalah alam semesta ini.

"Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan."(Huud : 117)

  • Allah tidak memiliki anak maupun orangtua
"Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakan." (Al-Ikhlas : 3)

Allah itu Esa, Allah ada dengan sendiri-Nya, sejak zaman azali, tidak ada sesuatupun yang menciptakan-Nya. Lalu bagaimana bisa ada? tidak perlu kita bahas dan pikirkan permasalahn itu :) Dalil di atas sudah sangat jelas menyebutkan bahwa Allah tidak pernah memiliki orang tua, dan juga anak, sejak dulu Allah tidak pernah diganti oleh penerus-Nya, ataupun menggantikan pendahulu-Nya, namun dari dulu hingga Hari Pembalasan nanti, tetaplah Allah Yang sama.

"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir. Yang Lahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."(Al-Hadid : 3)

Wallahu'alam bis showab. Semoga notes yang saya buat ini bermanfaat, mohon maaf bila terdapat kesalahan.
Wassalamu'alaykum Wr. Wb.

Letakkan Gelasnya


Seorang Professor memulai perkuliahannya dengan memegang sebuah gelas yang berisi air. Dia memegangnya tinggi agar seluruh mahasiswanya melihat dan kemudian Professor itu bertanya kepada seluruh mahasiswa di kelas.
                “Menurut kalian, berapa berat dari gelas yang aku pegang ini?”
                “50 grams!’....’100 grams!’....’125 grams!’.....” para mahasiswa menjawab satu per satu.
                “Sejujurnya, aku tidak mengetahui pasti berapa berat gelas ini.” Jawab sang Professor, “tapi pertanyaanku adalah, apa yang terjadi jika aku terus memegangnya untuk beberapa menit?”
                “Tidak ada!” jawab seluruh mahasiswa. “Oke, lalu apa yang terjadi jika aku terus memegangnya selama satu jam?”
                “Bahumu mulai terasa sakit.” Jawab salah satu mahasiswa. “Ya, kau benar, sekarang, apa yang terjadi jika aku terus memegangnya selama satu hari?”
                “Bahumu akan terasa lebih sakit dan pegal, kau mungkin akan mengalami cedera otot dan harus pergi ke rumah sakit!” jawab salah satu mahasiswa.
Seluruh mahasiswa tertawa. “Ya, jawaban yang cukup bagus. Tapi,setelah beberapa hal tadi, apa berat dari gelas ini berubah?” tanya sang Professor. “Tidak.” Jawab mahasiswanya.
                “Lalu, apa yang menyebabkan bahu menjadi sakit dan cedera?” Mahasiswa-mahasiswi bingung menjawabnya. “Letakkan saja gelasnya!” jawab salah satu mahasiswa.
                “Tepat!” ucap sang Professor. “Masalah dalam hidup layaknya gelas yang dipegang ini, kau memikirkannya untuk beberapa menit dalam pikiranmu, kau masih terlihat baik-baik saja. Memikirkan terus untuk waktu yang lebih lama, kau mulai merasakan sakit. Kau memikirkannya lebih lama lagi, kau bisa stress dan tidak akan melakukan apapun yang lain.”
                “Memang penting untuk memikirkan solusi dari masalah dalam hidupmu, tapi lebih baik bila  bertawakkal kepada Allah SWT. Dan ‘meletakkan’ masalah itu di akhir harimu sebelum kau tidur. Dengan begitu, kau tidak akan stress dan bisa menghadapi tantangan dan masalah yang akan datang lebih baik. Jadi, ingatlah untuk ‘meletakkan gelas’ di akhir harimu dan percayalah kepada Allah SWT.”
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (Q.S Al-Fath :4)
                “Ketenangan adalah salah satu tanda iman yang kuat sementara kekhawatiran dan stress adalah tanda iman yang lemah. Katakan pada pikiranmu setiap hari sebelum dirimu tidur:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S Al-Fajr : 27-30)